Mutiara
Harapan dan Optimisme
Firman Allah
SWT dalam Al-Qur’an surat Ali-Imran ayat 13:
إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَعِبْرَةً لِأُولِي
الْأَبْصَارِ
Artinya:
“Sungguh pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang
mempunyai penglihatan (mata hati)”.
Kita mengetahui bahwasanya segala
sesuatu yang tejadi di dalam hidup ini selalu terdapat hikmah yang terkandung
di dalamnya. Namun titik problemnya terdapat pada bagaimana memahami hikmah
atau pesan tersebut. Hal demikian merupakan sebuah ajaran Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya
melalui kalam-Nya agar kita tidak berputus asa atas sesuatu yang kita tidak miliki
dan demikian pula tidak berbangga diri ketika memilikinya. Allah SWT selalu
menyelipkan pelajaran di setiap kejadian yang terjadi karena sesungguhnya Dia
lah yang Maha Besar dan Maha Agung atas segala apa yang ada di seluruh alam
semesta ini. Firman Allah SWT:
لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ
وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ ۗ
وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
Artinya:
“Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak
pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak
menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri”. (QS. Al-Hadid:
23)
Perasaan putus asa sudah pasti terjadi pada kita karena hakekatnya
kita adalah manusia biasa, akan tetapi yang menjadi titik perbedaan adalah
kapan dan bagaimana kita bangkit dari keputusasaan tersebut. Salah satu bekal
utama yang hendaknya selalu membersamai kita adalah raja’ (harapan) atau
rasa optimisme. Harapan atau raja’ akan selalu menuntun kita untuk
selalu berhusnudzon atau berprasangka baik kepada Allah karena pada
dasarnya segala sesuatu tidak selalu berjalan sesuai yang kita inginkan.
Harapan-harapan tersebut meliputi harapan dalam berbagai hal seperti halnya
harapan akan diberikan rezeki, harapan akan segera menikah, harapan akan
kesuksesan, harapan akan diampuni dosa, harapan akan dijauhkan dari malapetaka,
dan lain sebagainya. Harapan dalam hal ini tentunya bukan hanya sebatas harapan
namun juga disertai dengan langkah. Langkah yang bermula dari diri sendiri,
dari hal yang kecil, dan dari sekarang.
Di kehidupan ini ada beberapa situasi dan kondisi di mana kita
sebagai manusia sering ditimpa keputusasaan yang tak jarang dapat membuat kita
sedih hingga mempercayai bahwa tidak ada sesuatupun yang dapat menolong kita.
Dengan demikian ada beberapa hal yang hendaknya senantiasa kita yakini di
setiap kondisi tersebut yakni: pertama, di setiap kesulitan pasti ada
kemudahan. Allah SWT berfirman:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ
يُسْرًا
Artinya:
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” (QS. Al-Insyirah: 5)
Ketika dihadapkan dengan kesulitan tiada arah dan tujuan kepada
siapa kita kembali selain kepada Allah SWT. Allah lah yang memberikan kesusahan
itu sebagai ujian iman kepada hamba-hamba-Nya dan Allah juga lah yang akan
menghilangkan kesusahan itu dan menggantinya dengan kesenangan atas kehendak-Nya.
Sudah sepatutya di saat kita memiliki masalah kita harus yakin bahwa Allah SWT
yang dapat membantu kita, menyelesaikan masalah kita, dan memberikan kita
kemudahan. Salah satu cara yang membuat kita tersenyum dan tenang yakni dengan
meyakini bahwa Allah SWT selalu ada disetiap langkah kita entah itu di saat
susah maupun senang.
Allah dan rasul-Nya juga telah mengajarkan tentang keikhlasan dan
kesabaran, sehingga masalah yang dihadapi akan terasa ringan jika di dalam hati
manusia ada benih kesabaran dan keihklasan dalam menjalani cobaan dari Allah
SWT. Lagi-lagi Allah memiliki maksud dalam setiap peristiwa yang kita alami dan
maksud yang terkandung di dalam peristiwa tersebut tidak terjangkau oleh kita,
sehingga yang bisa kita lakukan adalah berserah diri kepada Allah dengan
meminta ampun atas segala kesalahan dan dosa yang telah kita lakukan dan juga
berharap kebaikan dari-Nya karena pintu Allah akan selalu terbuka bagi siapa
yang mengetuknya. Maka, jika kita telah yakin jika Allah lah Sang Pencipta Yang
Maha Agung, Sang pemilik alam semesta ini, tentu kita tidak akan bersedih dan
berputus asa bukan?
Kedua, di balik suka ada duka, dan di balik duka ada suka. Sebagaimana
roda kehidupan yang terus berputar ada saatnya seseorang di atas dan ada
kalanya pula ia berada di bawah. Jika diibartkan dengan seseorang yang tengah
dihadapkan dengan duka maka yakinlah duka itu dengan pengibaratan siang dan
malam. Di saat malam tiba maka laluilah malam itu dengan berserah diri kepada
Allah karena kita tahu bahwa besok fajar kan menyongsong, dan siang akan datang
kembali.
Kehidupan tidak selalu berjalan sesuai yang kita kehendaki. Ketika
rasa senang dan gembira menyelimuti kita, di saat itu pula rasa duka datang
menghampiri, dan begitu pula sebaliknya karena kesusahan dan kesenangan sudah
menjadi bagian dalam kehidupan. Maka ketika kita senang, jangan lupa bersyukur
kepada Sang Pemberi senang, sebelum kesenangan itu diambil oleh-Nya dan
diganti-nya dengan kesusahan. Namun, kita juga harus yakin bahwa Allah tidak
akan membiarkan hamba-hamba-Nya dalam penderitaan kecuali menyelipkan hikmah
dalam penderitaan tersebut. Sehingga langkah terbaik yang dilakukan adalah
dengan berdo’a dan menyerahkan segalanya kepada Allah SWT.
Dengan berdo’a manusia akan menyadari betapa lemahnya dan terbatasnya
diri ini sehingga ketika semua disandarkan kepada Allah, maka kita selalu
melangkah dengan ridha dan izin Allah SWT. Berdo’a kepada-Nya dengan berharap
apa-apa yang kita butuhkan dapat terpenuhi karena pada hakakekatnya hanya Dia
lah yang dapat mengabulkan itu semua atas izin-Nya. Firman Allah SWT:
إِنَّمَا
أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ فَسُبْحَانَ
الَّذِي بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
Artinya:
“Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata
padanya. “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu. Maka Mahasuci (Allah) yang di
tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-nya kamu dikembalikan”.
(QS. Yasin: 82-83).
Ketiga, percaya akan kebesaran dan Kuasa Allah SWT. Di dalam kehidupan
tentu kita menjumpai kekayaan dan kemiskinan, sakit dan sehat, kemuliaan atau
kehinaan, maupun kelebihan dan kekurangan. Kondisi-kondisi tersebut tentu
sangat bertolak satu dan lainnya. Namun, satu hal yang harus sama yakni dengan
tetap menghadirkan Allah di setiap kondisi tersebut karena Dia selalu ada dalam
setiap nafas kehidupan kita. Kita dapat merasakan kedamaian di setiap kondisi
dan situasi yang kita alami jika kita menemukan Allah di dalamnya. Kedamaian
tersebut diperoleh dengan merasakan kehadiran Allah di setiap waktunya.
Kehadiran Allah dapat menjelma kedalam pertolongan-Nya kepada
hamba-hamba-Nya. Pertolongan Allah tentu ada dan akan menghampiri kita jika
kita terus berada di jalan-Nya karena sejatinya Allah Maha Rahman lagi Maha
Rahim, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Allah tahu apa yang tebaik untuk kita
oleh karenanya serahkan harapan, keinginan, ataupun cita-cita hanya kepada-Nya.
Firman Allah SWT:
وَإِلَىٰ
رَبِّكَ فَارْغَبْ
Artinya: “Dan
hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap”. (QS. Al-Insyirah: 8).
Hanya kepada Allah semata kita berkeluh kesah dan hanya kepada-Nya
pula lah kita berserah diri. Masalah dan kesulitan yang kita alami bukanlah
sesuatu yang harus kita keluhkan dan ratapi, marilah belajar menerima dan
bersyukur karena dengan itu kita akan merasakan nikmat Allah SWT yang tak akan
pernah habis, dan yakinlah di atas atau di bawah pun kehidupan kita ada Allah
di atas segala sesuatu, ada Allah di balik semua hal, dan ada Allah yang menuntun
kita. Tumbuhkan harapan dan semangat dengan langkah. Walaupun harapan tersebut
kecil tapi harapan itulah yang akan mebuat kita besar dan memberikan semangat
menyongsong masa depan.
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau
kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan
beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada kepada orang-orang sebelum
kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak
sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami.
Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir”. Amin...
Sumber:
Mansur, U. Y. (2007). Kun Fayakuun; Selalu Ada Harapan Di
Tengah Kesulitan. Jakarta Timur: Zikrul Hakim.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar